BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

About Me

Foto saya
Nama gue Verly Citra Anindya. Gue biasa d panggil Verly. Sekarang gue duduk di kelas 9smp., gue sekolah d SMPN9 Surabaya.

Senin, 13 September 2010

Pinta Terakhir

Pagi ini cerah tapi gak bagi ayah. Satu bulanyang lalu ayah minta di belikah kursi goyang. Entah kenapa tiba-tiba ayah minta di belikan kursi goyang. Mungkin untuk menemani kesendiriannya ejak di tinggal ibu menninggal lima bulan yang lalu.
“Kak gimana udah ada belum uang buat beli kursi goyang ayah?”, tanyaku pada kak Dennis. Kak Dennis adalah kakak ku yang ketiga. Kami empat bersaudara.
“Aduh Del, kakak belum dapat gaji nih kalu satu minggu lagi gimana.?”,keluh kak Dennis.
“Kak, ayah udah minta minta kurssi goyang ini satu bulan yang lalu, masa sekarang harus di tunda lagi?”, tanyaku kesal. “Kakak gak kasihan sama ayah?”, sambungku dengan nada kesal.
“Mau gimana lagi Del, kakak benar-benar gak ada uang nih., kakak juga kasihan sama ayah Del.”, kata kak Dennis.
“Yaudah deh, kak, Adel mau pamit pulang dulu kasihaan ayah nunggu Adel dirumah.”, pamitku pada kak Dennis.
“Hati-hati ya Del di jalan besok kalau kakak sudah gajian pasti kakak kasih uangnya.”, kata kak Dennis meyakinkanku.
“Asalamualaikum, kak.”, pamitku pada kak Dennis.
“Walaikumsalam, Del hati-hati ya.”, balas kak Dennis.
Hatiku sangat kesal. Karena lagi-lagi kak Dennis menunda untuk membeli kursi goyang. Aku memutuskan untuk ke rumah kak Deva yang tinggal tak jauh dari rumah kak Dennis. Kak Deva adalah kakak tertuaku. Dia sudah menikah tetapi belum dikaruniai buah hati.
“Moga, kak Deva sudah ada uang untuk membeli kursi goyang ayah.”, batinku dalam haati sambil menyusuri jalan menuju rumah kak Deva.
TING TONG TING TONG bunyi bel rumah kak Deva yang baru saja ku pencet. Tak lama kemudian, kak Deva membukakan pintu untukku.
“Asalamualaikum, kak.”, sapa ku.
“Walaikumsalam, Del.”, balas kak Deva dengan senyuman. “Ada apa kamu kesini?”, tanya kak Deva.
“Hmm, Adel cuma mau tanya soal uang untuk beli kursi goyang ayah, kakak sudah ada apa belum?” tanyaku pada kak Deva dengan penuh harapan.
“Maaf ya Del, bukannya kakak gak mau kasih tapi, uang kakak sudah di buat mas Rama untuk modal dagang.” jawab kak Deva. Mas Rama adalah suami kak Deva, mereka sudah menikah satu ntahun yang lalu, sebelum ibu meninggal.
“Terus, gimana kak, kita sudah nunda satu bulan pemintaan ayah.”, kataku memelas.
“Kamu minta dulu deh ke kak Dennis, mungkin punya uang.”, saran kak Deva.
“Aku tadi sudah ke rumah kak Denis tapi kak Dennis bilang belum gajian.”, kataku.
“Kalau kak Bagas?”, tanya kak Deva lagi.
“Aku belum tanya kak, rumah kak Bagas kan jauh, aku belum kesana, nanti aku coba telepon kak Bagas.” kataku.
“Yaudah, kamu gak pulang ayah kasihan lho di rumah gak ada temennya.”, kata kak Deva.
“Ehmm, Adel pulang dulu ya Asalamualikum, kak.”, pamitku.
“Walaikumsalam, hati-hati ya Del.”, salam kakakku.l
Sebenarnya aku gak tega pada ayah untuk ngomong ini, tapi gimana lagi memang ini keadaannya. Pasti ayah nanti nanyain soal kursi goyangnya. Semoga ayah bias nerima keadaan ini. Jujur aku ingin sekali membelikan ayah kursi goyang ayah tanpa patungan dengan kakak-kakak ku. Tapi aku kan belum bekerja uang kuliahku saja di tanggung kak Deva.
“Asalamualaikum, yah.”, salamku.
“Walaikumsalam.”, balas ayah. “Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?” tanya ayah padaku.
“Hmm, ada kuliah tambahan tadi yah.”, jawabku berbohong.
“Ooo…, cepat mandi ganti baju, lalu makan. Jangan lupa minum vitamin yang ayah belikan tadi.”, kata ayah padaku.
“Iya yah, Adel ke kamar dulu ya.”, kataku sambil berjalan menuju kamar.
Didalam kamar aku berpikir bagaimana cara mendapatkan uang untuk membeli kursi goyang. Sudah berulang kali aku meminta uang pada kakak-kakakku, tapi sampai sekarang mereka belum memberiku uang.
“Oh iya, akku belum minta ke kak Bagas mungkin kak Bagas ada uang untuk membeli kursi goyang.”, batin ku dalam hati.
Aku segera mengambil handphone ku untuk menelpon kak Bagas. Kali ini aku sangat berharap kepada kak Bagas.
“Halo, asalamualaikum kak Bagas.”, sapa ku.
“Walaikumsalam, ada apa Del?”, tanya kak Bagas.
“Itu kak, kakak masih ingatkan soal kursi goyang ayah, Adel kesini mau nanyain soal uang buat beli kursi goyang, sudah ada belum?”, aku membalas tanya.
“Uang kakak kemarin buat beli obat mbak Kinan. Sakitnya mbak Kinan kemarin tiba-tiba kambuh, dan sekarang kakak gak ada uang, jadi tunggu kakak gajian mungkin satu minggu lagi.” kata kak Bagas panjang lebar. Mbak Kinan adalah istri kak Bagas. Usia pernikahan mereka lebih dari enam bulan. Memang mbak Kinan mengiddap penyakit asma yang sewaktu-waktu bias kambuh.
“Ohh begitu, terus gimana kak, kita sudah nunda satu bulan, aku gak tega sama ayah kak.”, keluhku.
“Mau gimana lagi Del, uang kakak tinggal dikit nih, cuma cukup buat makan saja.”, kata kak Bagas.
“Minggu besok pasti kakak belikan, tanpa patungan, kakak janji Del.”, janji kak Bagas.
“Yaudah kak, aku nanti coba ngomong sama ayah, semoga ayah ngerti.”, kataku.
“Yaudah asalamualaikum, Del.”, salam kak Bagas.
“Walaikumsalam.” balasku.
Jujur aku gak enak sama ayah, sudah berulang kali aku janji sama ayah. Aku ingin sekali membelikan kursi goyang itu dengan uang ku saendiri. Tapi bagaimana caranya.
“Apa aku harus meminjam uang pada teman kuliahku? Tapi aku malu.” kata ku dalam hati.
Aku mencari tau harga kursi goyang yang murah tapi kualitasnya bagus. Setelah ku cari dari beberapa sumber seperti internet, koran, temanku. Akhirnya aku menemukan toko yang jual kursi goyang dengan harga murah tapi kualitasnya lumayan bagus. Aku memutuskan untuk menelepon toko itu, untuk menanyakan harga-harga kursi goyang yang murah, aku mengetahuinya dari koran edisi minggu lalu.
“Halo…, selamat malam.” sapaku.
“Selamat malam disini TOKO MAKMUR JAYA ada yang bisa saya bantu?”, tanya seseorang dari seberang telepon.
“Saya mau tanya tentang harga kursi goyang yang murah tapi kualitasnya bagus, berapa mbak?”, tanya ku.
“Ada yang Rp. 900.000,00 yang murah, tapi kualitasnya nomor lima, yang lebih bagus harganya Rp. 1.300.000,00, ada yang paling bagus kualitas nomor satu harganya Rp. 2.200.000,00.”, jawab pramuniaga menjelaskan harga ditoko itu.
“Saya mau yang Rp. 1.300.000,00 saja mbak, apa tidak bisa di tawar lagi?” tawar ku.
“Itu sudah harga pas mbak, kalau mau di lebih jelas, datang saja di toko kami, di jalan Anggrek no.20.”, jawab pramuniaga.
“Oh, kalau begitu saya besok kesana, terimakasih.”, kataku.
“Terimakasih, selamat malam.”, salam pramuniaga.
“Selamat malam.”, jawabku.
Aku memutuskan untuk menjual handphone ku kepada salah satu teman kuliahku yang kebetulan memerlukan handphone.
“Adel kamu sudah tidur apa belum?.”, tanya ayahku dari balik pintu kamarku yang terkunci.
“Belum yah, ini masih siap-siap mau tidur.”, jawabku.
“Cepet tidur besok kuliah.”, saran ayahku.
“Iya yah Adel tidur dulu.”, kataku.
Hari ini aku menjalani hidupku seperti biasa. Tapi sepulang kuliah aku tidak langsung pulang tapi ke toko meubel yang ku telepon tadi malam. Toko itu tak jauh dari kampusku. Didepan toko itu aku melihat kursi goyang yang bagus sekali. Warnanya coklat berkilau dihiasi ornamen jaman dulu.
“Pasti ayah senang sekali jika ku belikan kursi goyang itu.”, batin ku dalam hati sambil menyeberang jalan menuju toko itu.
“Selamat siang mbak, ada yang bisa saya bantu?”, tanya pramuniaga toko itu.
“Siang, saya yang kemaren malam telepon kesini, saya mau lihat kursi goyang yang harganya Rp.1.300.000,00.”, jawabku.
“Ayo saya antar mbak.”, ajak pramuniaga itu pada ku.
Aku berjalan mengikuti langkah pramuniaga itu. Sambil berjalan aku melihat-lihat isi toko itu.
“Ini mbak kursi goyangnya, bisa dipilih mau model yang mana?”, tanya pramuniaga.
“Kalau yang ini harganya berapa mbak?” tanyaku sambil menunjuk kursi goyang yang menurutku lumayan bagus.
“Kalau yang itu harganya Rp. 1.400.000,00.”, jawab si pramuniaga.
“Tidak bisa ditawar mbak?”, tawar ku.
“Tidak bisa mbak, ini sudah harga pas.”, jawab si pramuniaga.
“Ohh, begitu. Yasudah saya beli yang ini mbak.”, kataku. “Bisa diantar ke rumah mbak.”, sambungku.
“Bisa diantar mbak, ongkos kirimnya gratis. Jadi mbak beli yang ini, saya catat dulu ya.”, kata si pramuniaga.
“Ini uangnya mbak.”, kataku sambil menyerahkan uang kepada pramuniaga.
“Oh, iya mbak, alamat mbak dimana?”, tanya si pramuniaga.
“Di jalan Garuda nomor 12.” jawabku.
“Terimakasih, atas kunjungannya.”, kata si pramuniaga.
“Sama-sama.”, jawabku.
Aku sudah tak sabar melihat raut wajah bahagia ayah ku saat melihat kursi goyang barunya.
“Beep, beep.”, bunyi bel mobil di depan rumahku.
Aku segera keluar rumah untuk mengangkat kursi goyang itu. Kursi goyang itu aku angkat ke dalam rumah. Aku letakan kursi itu diteras menghadap taman rumahku, yang aku buat 1 bulan yang lau.
“Ayah, ayah, ayah.”, teriak ku memanggil ayah.
“Ada apa?”, tanya ayah heran.
“Kursi goyang ayah sudah datang.”, jawabku senang.
Ayah tersenyum senang sekali. Aku juga ikut tersenyum. Aku mengajak ayah ke teras, untuk mencoba kursi goyangnya. Dan ayah langsung medudukinya. Aku sungguh bahagia melihat ayah bisa tersenyum lagi, sejak kematian ibu ayah jarang sekali tersenyum seperti ini. Aku menuju dapur untuk membuatkan ayah the hangat untuk menemaninya di atas kursi goyang.
“Yah, ini tehnya.”, kataku sambil menaruh the di atas meja dekat kursi goyang.
“Terima kasih, Del.”, kata ayah sambil tersenyum.
Aku meninggalkan ayah bersama kursi goyangnya. Aku menuju kamar sambil tersenyum bahagia. Tak lama kemudian aku kembali menuju ayah. Aku melihat ayah dari belakang tertidur lelap. Aku menghampiri ayah. Tapi saat ku pegang tangan ayah, dingin sekali. Aku letakan tanganku di depan lubang hidung ayah, tak terasa hembusan nafas. Aku mulai panic, aku memegang denyut nadi ayah. Aku tak percaya ini semua.
“Ayaaaahhh…..”, kataku lirih sambil menitihkan air mata.

Minggu, 12 September 2010

Lyla – Jantung Hati

Tak mudah tuk akui

bahwa engkau begitu berarti

tak juga ku pungkiri

ternyata kaulah yang selalu di hati

kurasa ku sampai di ujung jalanku

tempat ku berhenti dan ber..nya..nyi

Reff: Jantung hatiku, kuletakan di jantung hatimu

ku rekatkan erat di nadimu, mengalir di darahmu

dan terbelenggu takkan pernah lekang oleh waktu

semakin melekat di pelukmu, hingga akhir aku…

back to reff (3x)


Lirik Lagu Lyla – Jantung Hati ini dipersembahkan oleh istanalagu.comFree Download Mp3 Gratis Lagu Indonesia. Kunjungi Juga songsplace.com Song Lyrics, Untuk mendapatkan Lyrics lagu barat dan video clipnya.